Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)
Ruang Lingkung Kepribadian Islami
Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:
- Ruhiyah (Ma’nawiyah), Aspek ruhiyah adalah
aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab
ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam
firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10 “Dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang
mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy
Syams: 7-10). Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita
akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi
orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan
yang bisa mengeraskan hati.
Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:
a. Aspek aqidah. Ruhiyah yang
baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang
lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah.
b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti
tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian
penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur kesempurnaan iman
seseorang.
أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم
خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.
“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik
akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)
c. Aspek tingkah laku. Tingkah
laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang
2.
Fikriyah
(‘Aqliyah)
Kepribadian Islami juga ditentukan
oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah, kekuatan
akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya
manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:
a. Wawasan keislaman. Sebagai
seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk
memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan
memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.
b. Pola pikir islami. Pola pikir islami
juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang
muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah
swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering
kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun,
afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”
افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا
تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون
Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan
fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai
adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran
seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan
berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah
–subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknya.
c. Disiplin (tepat) dan tetap
(tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak
terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut
tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk
menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah
swt.
3.
Amaliyah
(Harokiyah)
Amaliyah harakiah yang merubah
kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah
adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan
tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq
bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal
dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman
tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.
“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta
orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan
kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)
Pentingnya amaliyah harakiah dalam
kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir
semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian juga seorang muslim
semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan
dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa.
Ada sedikitnya tiga alasan kenapa
seorang harus beramal:
a. Kewajiban diri pribadi.
Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan
untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan
manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah,
menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk refleksi
dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta. “Dan tidak Aku
ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz
Dzaariyaat: 56)
b. Kewajiban terhadap keluarga.
Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan
memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah
seseorang dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk
keluarga yang Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa
melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)
c. Kewajiban terhadap dakwah.
Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri
dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak
hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.
“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan
diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.
At-Taubah:71)

thanx. bagus sekali untuk bahan renungan kita
BalasHapus